Pages

Tampilkan postingan dengan label Trik-tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trik-tips. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

3 sikap yang membuat guru takut bersentuhan dengan teknologi informasi


Profesi guru dimasa sekarang seperti tercengkeram oleh perubahan-perubahan yang terjadi disekelilingnya. Selain masalah sertifikasi guru sebagai sebuah profesi, masalah lain yang timbul adalah masalah penggunan teknologi sebagai alat pembelajaran. Masalah yang terakhir bukan menjadi masalah untuk guru yang belum mau berubah, atau bagi guru yang masih mau mengajarkan siswanya seperti ia diajar oleh gurunya puluhan tahun lalu.
Siswa kita sekarang bukan individu yang sama seperti saat kita jadi siswa dahulu. Ada banyak teknologi dan media yang melingkupi mereka. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan dikelas, ia bersaing dengan banyak media dan teknologi yang sehari-hari ada disekeliling siswa. Ada DVD dan CD tentang pengetahuan, tayangan ilmu pengetahuan di televisi yang dikemas dengan menarik, orang-orang di sekeliling siswa yang mampu menghadirkan pengetahuan dengan kasih sayang, yang terakhir internet, alat yang selalu melayani keingintahuan siswa 24 jam dan 7 hari dalam seminggu. Lewat kemasan multimedianya (gambar, video, teks dan interaksi langsung) teknologi internet bisa menjadi saingan bagi guru yang tidak mau berubah.
Internet menjadi saingan bagi guru? Bukannya lebih baik guru menjadikan internet dan teknologi pada umumnya sebagai mitra dalam membelajarkan siswa. Namun sebenarnya dimana terletak permasalahan sehingga guru masih belum mau berubah saat bersentuhan dengan teknologi.
1. Guru khawatir tidak menjadi satu-satunya orang yang ‘pintar’ dikelas.
Menggunakan teknologi berarti membuat diri kita sebagai guru menjadi bukan satu-satunya orang yang paling pintar dikelas. Saat menggunakan teknologi siswa jadi ‘kelihatan’ lebih pintar maklum jika melihat pengertian digital natives dan digital immigrants’, mereka memang generasi yang hidup dengan teknologi.
Belajar dari siswa mengenai teknologi sebaiknya dilakukan oleh guru jika guru merasa tidak tahu dan kurang menguasai. Hal yang terjadi bukannya jatuh wibawa guru dimata siswa, namun guru semakin mengukuhkan pengertian pembelajar sepanjang hayat di mata siswa. Bukannya hal ini baik untuk menjadi contoh bagi siswa, ingat satu contoh lebih baik dibanding seribu nasihat.
2. Tidak merasakan adanya hubungan antara subyek yang diajarkannya dengan teknologi.
‘Saya mengajar penjaskes di sekolah, apa hubungannya dengan teknologi’ atau ‘pembelajaran teknologi, urusannya guru computer bukan urusan saya’  kalimat tadi memberikan gambaran bahwa guru masih memisahkan antara teknologi sebagai subyek pembelajaran dan teknologi sebagai alat. Biarkan teknologi menjadi alat yang membuat pembelajaran dikelas semakin menarik dan mengesankan. Jika guru penjaskes menggunakan teknologi, maka ia akan menghadirkan kisah perenang kelas dunia di kelas lewat tayangan DVD tentang perenang tersebut. Bisa juga guru itu menyuruh anak melakukan riset mengenai penemu permainan bola basket di internet. Hasilnya anak akan semakin senang hadir di pelajaran penjaskes, dan tidak susah lagi untuk diminta bergerak dengan penuh semangat saat pelajaran olah raga karena motivasi dari tayangan yang dilihatnya.
3. ‘Saya harus bisa menguasai teknologi dahulu baru kemudian mengajarkan dan menggunakannya bersama siswa.’
Sebuah perkataan yang mungkin benar tapi lebih banyak tidak benarnya. Apa yang terjadi jika guru harus bisa menguasai dahulu semua program dikomputer dan baru mengajarkan siswa, yang terjadi siswa keburu lulus lebih dahulu sebelum sempat diajarkan teknologi oleh sang guru. Guru hanya cukup mengetahui hasil pembelajaran dengan menggunakan teknologi, baru kemudian mencari tahu apa yang bisa teknologi lakukan untuk pembelajaran saya. Program presentasi misalnya, bisa diterapkan dalam semua tipe pembelajaran. Apakah guru harus canggih dahulu dalam menggunakannya? Tidak juga karena ada banyak pihak bisa membantu, guru TIK misalnya, atau bahkan siswa kita sendiri. Tentunya guru juga sedikit demi sedikit belajar dan mencari tahu sehingga guru bisa semakin menguasai

Teknologi informasi ada untuk mempermudah

Teknologi informasi ada untuk mempermudah, laporan dari workshop IDE (Inovasi Dalam Edukasi) Hotel Belle View Semarang 24-25 Maret 2009

training-ide-semarang-24-25-maret-2009-dan-workshop
Day 1
Teknologi ada untuk mempermudah, namun untuk bisa sampai kepada pengertian ini guru perlu untuk melebarkan paradigma dan menjadi individu yang berpikiran terbuka. Gagasan ini dijadikan sebagai landasan oleh program IDE (Inovasi dalam edukasi) yang mempunyai sekolah binaan di beberapa kota di Indonesia untuk melakukan pembinaan dan workshop bagi guru-guru yang masuk daerah binaan. Silahkan klik disini untuk keterangan mengenai program IDE.
workshop-ide-semarang-24-25-maret-2009
Day 1
Kali ini yang menjadi topik adalah peningkatan penggunaan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) bagi guru-guru. Menarik sekali program ini dikarenakan guru-guru saat ini bertanggung jawab agar bagaimana guru bisa membelajarkan siswa yang akan menghadapi tantangan abad 21 nanti. Sebagai gambaran ada banyak profesi yang 5 tahun lalu belum ada tetapi sekarang pekerjaan itu ada dan dibutuhkan. Ada banyak juga pekerjaan yang kemudian hilang dan tidak ada.
Workshop kali ini memang menjadi sarana untuk membuka pemikiran guru bahwa teknologi tidak bisa tidak, diperlukan saat ini oleh anak didik kita. Bayangkan saat mereka masuk ke toko serba ada dekat rumah tinggal nya mereka akan melihat bahwa kasir penjaga toko sudah menggunakan computer untuk menghitung barang belanjaan yang siswa anda beli. Dengan demikian sudah sedekat itu penggunaan teknologi disekitar mereka. Apakah kita masih tega untuk menunda menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dikelas?
Berawal dari ide besar diatas, saya memulai workshop dengan mengingatkan peserta workshop mengenai perjalanan kemajuan teknologi. Jaman dahulu, kita tidak pernah bermimpi kita akan mengirim surat, menelepon, mendengarkan musik, menonton video dalam genggaman tangan. Sekarang semuanya menjadi mungkin.
Saya juga kemudian membandingkan kehidupan guru-guru yang hadir saat mereka masih anak-anak dengan kehidupan anak-anak yang menjadi siswa-siswi mereka saat ini.  (Digital natives dan Digital Immigrants). Jawaban mereka banyak dan beragam,  tetapi yang menarik mereka mengeluhkan teknologi sebagai saingan atau pengganggu konsentrasi anak dalam mendalami pelajaran dirumah dan disekolah.
Sebuah analogi yang menarik sebenarnya, dikarenakan apa yang diakrabi dan disukai oleh siswa, kemudian malah menjadi saingan bagi guru. Tidak kah lebih baik guru untuk membuat kerjasama atau sinergi yang menarik antara teknologi dalam pembelajaran. Dijamin gelar guru idola akan disematkan oleh siswa, dan menjadi semakin mudah bagi guru untuk meraih hati siswa tanpa harus melarang mereka ini dan itu, dalam kaitannya dengan teknologi.
Tapi apa kemudian peran guru digantikan oleh teknologi? Apakah kemudian guru yang tidak menguasai teknologi harus berhenti mengajar atau malah belajar dari siswanya. Pernyataan diatas mempunyai jawaban yang ganda, bisa ya atau tidak.
Jawaban akan ya karena, ada suatu kesempatan peran guru digantikan oleh internet, oleh tayangan DVD di kelas, atau digantikan oleh pakar dibidangnya ketika kelas yang guru ajar melakukan telepon langsung dengan pakar, dan semua siswa bisa langsung bertanya kepada pakar tersebut.
Jawaban menjadi ‘tidak’ disebabkan, guru masih tetap punya peran dalam merencanakan pembelajaran, anak mungkin lebih pandai dalam hal teknologi tapi mereka tetap membutuhkan kita sebagai orang dewasa sebagai tempat mereka bercerita dan pertimbangan kaitannya dengan keamanan mereka saat mereka berada di dunia maya, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan etika dalam komunikasi.
Dengan demikian dibutuhkan guru yang mempunyai sifat yang mau terus belajar dan mau menjadikan siswa sebagai sumber pengetahuan. Bagi guru-guru senior sudah bukan saatnya lagi meminta putra atau putrinya yang sudah beranjak besar untuk mengerjakan pekerjaannya. Akan menjadi contoh yang baik untuk mereka ketika anda mau belajar hal yang baru apalagi teknologi. Jika disekolah anda belum punya jaringan internet atau bahkan computer, ajak siswa ke warnet terdekat, dan minta penjaga warnet untuk mengenalkan siswa pada internet dan computer. Dijamin siswa akan senang dan mereka jadi tahu kegunaan internet selain untuk bermain games.
Workshop kali ini memang dijalankan untuk membangkitkan dan membuat guru menjadi mau mencoba dan tidak takut salah dalam menggunakan teknologi. Dipenuhi oleh tips-tips yang mudah diterapkan dalam pembelajaran yang dikemas melalui banyak permainan selama 4 jam, 50 orang guru sekolah dasar dibangkitkan semangatnya untuk maju dan membuat diri menjadi agen perubahan dalam membuat siswa dan siswinya bisa menggunakan teknologi dengan bijak dan aman.
Semua yang hadir, menyetujui bahwa ada beberapa sikap guru yang menunjang dalam membuat percepatan dalam integrasi TIK dengan pembelajaran, sikap itu antara lain;
1.      Fleksibel
2.      Cepat beradaptasi
3.      Menerima keadaan bahwa ia bukan lagi orang yang terpandai dikelas.
4.      Tidak takut gagal
5.      Mau belajar dari siswa
6.      Mau mencoba hal yang baru
7.      Mau mengambil resiko
training-ide-hari-kedua
Day 2
training-ide-hari-kedua1
Day 2
training-ide-hari-kedua2
Day 2
Kegiatan ini diakhiri juga dengan pembuatan rencana pembelajaran  (RPP) yang mengintegrasikan teknologi dalam aktivitas pembelajaran. Menarik sekali melihat hasil pekerjaan para guru yang hadir, setelah rencana pembelajaran selesai para guru kemudian saling melihat dan memberi masukan bagi pekerjaan kelompok lainnya. 
Diambil dari http://gurukreatif.wordpress.com/

Teknologi tidak akan pernah menggantikan posisi guru

guru-mengajar-tik
Tetapi, guru yang mampu menggunakan teknologi dengan efektif untuk membantu memfasilitasi siswanya hingga bisa terhubung dan bekerjasama di dunia maya dengan orang lain, akan menggantikan guru yang tidak bisa.
Rekan baik saya Pak Gerald Donovan memberikan saya sebuah slide diatas mengenai posisi guru kini dan masa depan. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat saya hadir di workshop pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi. Saat itu dikatakan bahwa profesi guru TIK nanti akan tidak ada, dikarenakan semua guru akan menggunakan TIK. Tapi guru TIK nantinya akan bekerja sebagai tempat orang bertanya mengenai integrasi pembelajaran dengan TIK, sampai menjadi fasilitator pelatihan TIK bagi guru bahkan orang tua.
Hal diatas sudah terjadi pada saya saat ini. Senang sekali bisa melihat guru menjadi agen perubahan, dan mau mempelajari sesuatu yang baru demi mempersiapkan masa depan siswanya nanti.

Senin, 13 Januari 2014

Tips Mencetak ID Card dengan Corel Draw



idcardID Card (Kartu Identitas) yang saya maksud bukanlah seperti kartu ATM atau yang biasa pake sistem magnetik itu.  ID Card disini misalnya dipake untuk: Identitas Siswa/Mahasiswa, Kartu Parkir, Kartu Diskon dan sebagainya, dimana kesemuanya dilakukan/ dicetak memakai printer yang biasa dipakai untuk print foto / printer Ink Jet System.
Mencetak ID Card tidaklah terlalu sulit. Peralatan yang diperlukan diantaranya: (1) Komputer -tentu donk-. (2).Printer, (3).Mesin Press Heater, (4).Mesin potong ID Card. (5).Bahan ID Card (PVC)
Teknis membuatnya:
1. Buat desain (biasanya di CorelDraw), dengan ukuran jadi 8.5cm x 5.5cm, berarti ukuran desain harus dilebihkan sedikit (kira2 tiap sisinya 3mm -untuk area potong-). Bila ID Card dibuat lebih dari satu, maka duplikasikan dulu desain yang sudah dibuat tsb. (Corel: Pilih menu Arrange, Transformation, Skew – setelah muncul menu di sebelah kanan layar, pilih icon Position (kiri), lalu pilih ke arah mana akan diduplikasi, pilih Apply to Duplicate). Satu lembar PVC maksimal akan terbuat 10 pcs ID Card.
2. Print. Setelah selesai dibuat, lakukan print (seperti melakukan print biasanya). Pada saat di Print Preview, pilih opsi Mirror -simbolnya h huruf ‘E’-)
setelah dimirror:
3. Setelah dua bagian tercetak (bagian depan dan belakang), bagian tengah PVC lepaskan lapisan plastiknya.
4. Satukan ketiga bagian PVC tsb (bag:transfaran depan dan belakang, dan bag tengah -putih-) dengan hati2 dan tepat posisinya.
5. Rapatkan, dan siap dimasukkan ke mesin press heater dengan temperatur 120 – 150 derajat Celcius
6. Siap dipotong
7. Udah